Pengaruh Budaya, Politik dan Ekonomi terhadap bergeraknya Globalisasi
Sejak berakhirnya perang dingin,
dunia telah dilanda oleh suatu arus perubahan yang bersifat global. Perubahan
demi perubahan, akan terus berlanjut dalam abad 21. Pada mulanya wujud
perubahan tersebut sangat nampak dalam perkembangan sistem informasi
transportasi dengan fenomena dapat mempersingkat jarak dalam melakukan
hubungan antar wilayah atau antar negara baik dalam arti ruang
maupun waktu.
Globalisasi merupakan suatu
perkembangan yang tidak bisa dihindari dan dicegah. Kemajuan-kemajuan di
bidang teknologi komunikasi yang menghasilkan media yang canggih sehingga
mempermudah terjadinya globalisasi. Teknologi informasi dan komunikasi
telah menghubungkan manusia seluruh dunia menjadi satu sistem komunikasi.
Teknologi telah memperlancar terbentuknya budaya dunia, yakni budaya yang
dianut oleh seluruh umat manusia. Budaya tersebut bisa saja berasal salah
satu bangsa atau ras. Namun proses globalisasi telah menjadikannya budaya
semua orang diperkenalkan secara sistematis dan intensif ke seluruh
pelosok dunia.
Globalisasi dalam arti literal adalah sebuah perubahan sosial, berupa bertambahnya keterkaitan di antara masyarakat dan elemen-elemennya yang terjadi akibat transkulturasi dan perkembangan teknologi di bidang transportasi dan komunikasi yang memfasilitasi pertukaran budaya dan ekonomi internasional.
Globalisasi telah menimbulkan dampak yang sangat berarti dalam dimensi kehidupan manusia. Globalisasi merupakan proses internasionalisasi seluruh tatanan masyarakat modern. Pada awalnya ini hanya ada pada tataran ekonomi, namun dalam perkembangannya cenderung menunjukkan keragaman. Malcolm Waters mengemukakan bahwa ada 3 (tiga) dimensi proses globalisasi, yaitu: Globalisasi Ekonomi, Globalisasi Politik dan Globalisasi Budaya.
Dampak Globalisasi terhadap Sosial Budaya
Pasca jatuhnya kekuasaan orde
baru yang kemudian berubah menjadi rezim yang disebut sebagai “era reformasi”,
kondisi sosial-budaya masyarakat Indonesia cenderung mengalami krisis sosial
yang mengarah pada disintegrasi. Krisis moneter dan ekonomi yang terjadi sejak
akhir 1997, telah mengakibatkan munculya berbagai krisis lanjutan atau disebut
“krisis multidimensi” yang mencakup krisis politik, kepercayaan, hukum,
sosio-budaya dan sebagainya dalam kehidupan berbangsa dan negara. Salah satu
krisis multidimensi dalam bidang sosial budaya, yaitu meluasnya berbagai modus
disorientasi dan dislokasi pada banyak kalangan masyarakat kita. Misalnya, disintegrasi
sosial-politik yang bersumber pada euforia kebebasan yang nyaris kebablasan;
lenyapnya kesabaran sosial dalam menghadapi realitas kehidupan yang semakin
sulit sehingga mudah mengamuk dan melakukan berbagai tindakan kekerasan dan
anarki; merosotnya penghargaan dan kepatuhan terhadap hukum, etika, moral dan
kesantunan sosial; semakin meluasnya penyebaran narkoba serta penyakit-penyakit
sosial lain; berlanjutnya konflik dan kekerasan yang bernuansa politis, etnis
dan agama, seperti yang pernah terjadi di berbagai wilayah Aceh, Kalimantan
Barat dan Tengah, Maluku dan Sulawesi tengah. Beberapa indikasi yang dapat kita
rasakan akibat pengaruh globalisasi sosial budaya, adalah sebagai berikut:
- Disorientasi, dislokasi, atau krisis sosial-budaya di kalangan masyarakat yang merebak dengan kian meningkatnya penetrasi dan ekspansi budaya Barat khususnya Amerika yang semakin sulit dibendung.
- Berbagai ekspresi sosial budaya “alien” (asing), yang sebenarnya tidak memiliki basis dan preseden kulturalnya, semakin menyebar di dalam masyarakat sehingga muncul kecenderungan-kecenderungan “gaya-hidup” baru yang tidak kondusif bagi kehidupan masyarakat dan bangsa.
- Semakin merebaknya budaya “McDonald-isasi”, meluasnya budaya telenovela yang menyebarkan kepermisifan, kekerasan disasi, Valentine’s Day dan kini juga From’s Night di kalangan remaja. Meminjam ungkapan Edward Said, gejala itu tidak lain adalah neo cultural imperialism, menggantikan imperialisme klasik yang terkandung dalam orientalisme.
Dampak Globalisasi Dalam Bidang Politik
Ketika mendengar ungkapan
“politik global” yang ada di benak kita adalah percaturan perebutan kekuasaan,
hegemoni dan pengaruh global antara kekuatan-kekuatan besar di dunia.
Percaturan tersebut kadang berupa proses politik yang melibatkan banyak negara,
lembaga internasional dan kepentingan kelompok tertentu. Percaturan tersebut
juga kadang terjadi dengan diwarnai pertempuran antara kekuatan militer yang
menyimpan banyak kepentingan di belakangnya, seperti kita saksikan dalam
pertempuran- pertempuran di Afghanistan dan Irak. Seperti sebuah negara, dunia
global telah mempunyai dinamika politiknya sendiri.
Pengaruh globalisasi politik,
menimbulkan begitu banyak kepentingan-kepentingan yang tidak lagi bisa dipenuhi
kecuali melalui peran kekuatan global atau melibatkan unsur suprastate .
Terkadang justru kepentingan sebuah negara sendiri tidak akan bisa terpenuhi
kecuali dengan mengkondisikan eksternal sebagai support kepentingan domestik.
Maka globalisasi politik tidak lain adalah pergulatan global dalam mewujudkan
kepentingan para pelaku yang menjalankannya.
Dampak Globalisasi Dalam Bidang Ekonomi
Abad 21, yang ditandai dengan
globalisasi ekonomi. Hal ini merupakan suatu proses kegiatan ekonomi dan perdagangan, di mana
negara-negara di seluruh dunia menjadi satu kekuatan pasar yang semakin
terintegrasi dengan tanpa rintangan batas teritorial negara. Wujud nyata
globalisasi bidang ekonomi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, antara lain
terjadi dalam aspek-aspek berikut:
- Aspek Produksi, yaitu suatu perusahaan dapat berproduksi di berbagai negara, dengan sasaran agar biaya produksi menjadi lebih rendah. Hal ini dilakukan baik karena upah buruh yang rendah, tarif bea masuk yang murah, infrastruktur yang memadai ataupun karena iklim usaha dan politik yang kondusif. Dunia dalam hal ini menjadi lokasi manufaktur global.
- Aspek Pembiayaan, yaitu suatu perusahaan global mempunyai akses untuk memperoleh pinjaman atau melakukan investasi (baik dalam bentuk portofolio ataupun langsung) di semua negara di dunia. Sebagai contoh, PT. Telkom dalam memperbanyak satuan sambungan telepon, atau PT. Jasa Marga dalam memperluas jaringan jalan tol telah memanfaatkan sistem pembiayaan dengan pola BOT ( Build-Operate-Transfer ) bersama mitrausaha dari manca negara.
- Aspek Tenaga Kerja, yaitu suatu perusahaan global akan mampu memanfaatkan tenaga kerja dari seluruh dunia sesuai kelasnya, seperti penggunaan staf professional diambil dari tenaga kerja yang telah memiliki pengalaman internasional dan atau buruh diperoleh dari negara berkembang. Dengan globalisasi maka human movement akan semakin mudah dan bebas.
- Aspek Jaringan Informasi, yaitu masyarakat suatu negara dengan mudah dan cepat mendapatkan informasi dari negara-negara di dunia karena kemajuan teknologi, antara lain melalui : televisi, radio, media cetak, dan lain-lain. Dengan jaringan komunikasi yang semakin maju telah membantu meluasnya pasar ke berbagai belahan dunia untuk barang yang sama. Sebagai contoh, KFC, celana jeans Levi’s, hamburger, dan sebagainya telah melanda pasar di mana-mana. Akibatnya, selera masyarakat dunia baik yang berdomisili di kota ataupun di desa menuju pada selera global.
- Aspek Perdagangan. Hal ini terwujud dalam bentuk penurunan dan penyeragaman tarif serta penghapusan berbagai hambatan non tarif. Dengan demikian kegiatan perdagangan dan persaingan menjadi semakin ketat dan fair. Bahkan, transaksi menjadi semakin cepat karena “ less papers/documents ”dalam perdagangan, tetapi dapat mempergunakan jaringan teknologi telekomunikasi yang semakin canggih.

No comments:
Post a Comment